Rabu, 24 Maret 2010

sejarah promkes

SEJARAH PROMOSI KESEHATAN
Eny Retna Ambarwati

Menjadi perdebatan (1980) tentang penggunaan istilah promkes dan pendidikan kesehatan. Pendidikan kesehatan dan Promkes dalam arti luas, mempunyai tujuan yang sama yaitu meningkatkan/ mencapai kesehatan yang lebih baik. Istilah Promosi Kesehatan mulai dikenal lebih luas setelah Konferensi Internasional Promosi Kesehatan I di Ottawa, Canada. Tahun 1986.

1. Era propaganda dan Pendidikan Kesehatan Rakyat (masa kemerdekaan sampai 1960an)
a. Pada tahun 1924 oleh pemerintah Belanda dibentuk Dinas Higiene. Kegiatan pertamanya berupa pemberantasan cacing tambang di daerah Banten. Bentuk usahanya dengan mendorong rakyat untuk membuat kakus/jamban sederhana dan mempergunakannya. Lambat laun pemberantasan cacing tambang tumbuh menjadi apa yang dinamakan “Medisch Hygienische Propaganda”. Propaganda ini kemudian meluas pada penyakit perut lainnya, bahkan melangkah pula dengan penyuluhan di sekolah-sekolah dan pengobatan kepada anak-anak sekolah yang sakit. Timbullah gerakan, untuk mendirikan “brigade sekolah” dimana-mana.
b. Perintisan Pendidikan Kesehatan Rakyat oleh Dr. R. Mohtar

2. Era Pendidikan dan Penyuluhan Kesehatan (1960-1980)
a. Munculnya istilah Pendidikan Kesehatan dan diterbitkannya UU Kesehatan 1960
b. Ditetapkannya Hari Kesehatan Nasional (12 November 1964)

3. Era PKMD, Posyandu dan Penyuluhan Kesehatan melalui Media Elektronik (1975-1995)
a. Peran serta dan pemberdayaan masyarakat (Deklarasi Alma Ata, 1978)
b. Munculnya PKMD (Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa)
c. Munculnya Posyandu
d. Penyuluhan kesehatan melalui media elektronik (dialog interaktif, sinetron).

4. Era Promosi dan Paradigma Kesehatan (1995-2005)
a. Konferensi Internasional Promosi Kesehatan I di Ottawa, Kanada, munculnya istilah promosi kesehatan (Ottawa Charter, 1986) memuat 5 strategi pokok Promosi Kesehatan, yaitu :
1). Mengembangkan kebijakan yang berwawasan kesehatan (healthy public policy)
2). Menciptakan lingkungan yang mendukung (supportive environment)
3). Memperkuat gerakan masyarakat (community action)
4). Mengembangkan kemampuan perorangan (personnal skills)
5). Menata kembali arah pelayanan kesehatan (reorient health services).
b. Konferensi Internasional Promosi Kesehatan II di Adelaide, Australia (1988) menekankan 4 bidang prioritas, yaitu:
1). Mendukung kesehatan wanita
2). Makanan dan gizi
3). Rokok dan alkohol
4). Menciptakan lingkungan sehat.
c. Konferensi Internasional Promosi Kesehatan III di Sundval, Swedia (1991) 4 strategi kunci, yakni:
1). Memperkuat advokasi diseluruh lapisan masyarakat
2). Memberdayakan masyarakat dan individu agar mampu menjaga kesehatan dan lingkungannya melalui pendidikan dan pemberdayaan
3). Membangun aliansi
4). Menjadi penengah diantara berbagai konflik kepentingan di tengah masyarakat.
d. Konferensi Internasional Promosi Kesehatan IV di Jakarta, Indonesia (Jakarta Declaration on Health Promotion, 1991)

5. Promosi Kesehatan abad 21
a. Meningkatkan tanggungjawab sosial dalam kesehatan;
b. Meningkatkan investasi untuk pembangunan kesehatan;
c. Meningkatkan kemitraan untuk kesehatan;
d. Meningkatkan kemampuan perorangan dan memberdayakan masyarakat;
e. Mengembangkan infra struktur promosi kesehatan.

6. Promosi Kesehatan Saat Ini
Promosi Kesehatan di Indonesia telah mempunyai visi, misi dan strategi yang jelas, sebagaimana tertuang dalam SK Menkes RI No. 1193/2004 tentang Kebijakan Nasional Promosi Kesehatan. Visi, misi dan strategi tersebut sejalan dan bersama program kesehatan lainnya mengisi pembangunan kesehatan dalam kerangka Paradigma Sehat menuju Visi Indonesia Sehat.
Visi Promosi Kesehatan adalah “PHBS 2010” yang mengindikasikan tentang terwujudnya masyarakat Indonesia baru yang berbudaya sehat. Visi tersebut adalah benar-benar visioner, menunjukkan arah, harapan yang berbau impian, tetapi bukannya tidak mungkin untuk dicapai. Visi tersebut juga menunjukkan dinamika atau gerak maju dari suasana lama (yang ingin diperbaiki) ke suasana baru (yang ingin dicapai). Visi tersebut juga menunjukkan bahwa bidang garapan promosi kesehatan adalah aspek budaya (kultur), yang menjanjikan perubahan dari dalam diri manusia dalam interaksinya dengan ingkungannya dan karenanya bersifat lebih lestari.
Misi Promosi Kesehatan yang ditetapkan adalah:
a. Memberdayakan individu, keluarga dan masyarakat untuk hidup sehat
b. Membina suasana atau lingkungan yang kondusif bagi terciptanya PHBS di masyarakat
c. Melakukan advokasi kepada para pengambil keputusan dan penentu kebijakan.
Misi tersebut telah menjelaskan tentang apa yang harus dan perlu dilakukan oleh promosi kesehatan dalam mencapai visinya. Misi tersebut juga menjelaskan fokus upaya dan kegiatan yang perlu dilakukan. Dari misi tersebut jelas bahwa berbagai kegiatan harus dilakukan serempak. Selanjutnya strategi promosi kesehatan yang selama ini dikenal adalah ABG, yaitu: Advokasi, Bina suasana dan Gerakan pemberdayaan masyarakat. Ketiga strategi tersebut dengan jelas menunjukkan bagaimana cara menjalankan misi dalam rangka mencapai visi. Strategi tersebut juga menunjukkan ketiga strata masyarakat yang perlu digarap.
Strata primer adalah masyarakat langsung perlu digerakkan peran aktifnya melalui upaya gerakan atau pemberdayaan masyarakat (community development, PKMD, Posyandu, Poskestren, Pos UKS, dll). Strata sekunder adalah para pembuat opini di masyarakat, perlu dibina atau diajak bersama untuk menumbuhkan norma perilaku atau budaya baru agar diteladani masyarakat. Ini dilakukan melalui media massa, media tradisonal, adat, atau media apa saja sesuai dengan keadaan, masalah dan potensi setempat. Sedangkan strata tertier adalah para pembuat keputusan dan penentu kebijakan, yang perlu dilakukan advokasi, melalui berbagai cara pendekatan sesuai keadaan, masalah dan potensi yang ada. Ini dilakukan agar kebijakan yang dibuat berwawasan sehat, yang memberikan dampak positif bagi kesehatan.
Dengan visi, misi dan strategi seperti ini, promosi kesehatan juga jelas akan melangkah dengan mantapnya di masa depan. Namun sebagaimana konsep promosi kesehatan yang disebutkan di muka, visi, misi dan strategi tersebut juga harus dapat dioperasionalkan secara lebih membumi di lapangan, sesuai keadaan, masalah dan potensi setempat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar