Rabu, 24 Maret 2010

Mastitis

Eny Retna Ambarwati

Payudara sudah dipersiapkan sejak mulai terlambat datang bulan hingga pada waktunya, untuk dapat memberikan ASI yang sempurna. Untuk memperlancar pengeluaran ASI, payudara harus sudah disiapkan dengan melakukan masase, menghilangkan kerak pada putting susu, sehingga duktusnya tidak tersumbat, dan putting susu pada saat mandi perlu ditarik-tarik sehingga menonjol untuk memudahkan menghisap ASI.

1. Pengertian dari mastitis.
Mastitis berarti radang yang terjadi pada payudara.
Peradangan pada payudara adalah suatu hal yang sangat biasa pada wanita yang pernah hamil, bahkan pada keadaan tidak hamilpun kadang-kadang kita temukan mastitis.

2. Tanda-tanda mastitis.
Tanda-tandanya adalah rasa panas dingin disertai dengan kenaikan suhu yang berakibat pada demam, penderita merasa lesu, tidak ada nafsu makan, payudara membesar, nyeri dan terjadi perubahan warna kulit (merah pada kulit), membengkak sedikit, dan nyeri pada perabaan.

3. Patofisiologi.
Sesudah bayi lahir dan plasenta keluar, kadar estrogen dan progesteron turun dalam 2-3 hari. Dengan ini faktor dari hipotalamus yang menghalangi prolaktin waktu hamil, dan sangat di pengaruhi oleh estrogen, tidak dikeluarkan lagi, dan terjadi sekresi prolaktin oleh hipofisis. Hormon ini menyebabkan alveolus-alveolus kelenjar mammae terisi dengan air susu, tetapi untuk mengeluarkan dibutuhkan refleks yang menyebabkan kontraksi sel-sel mioepitel yang mengelilingi alveolus dan duktus kecil kelenjar-kelenjar tersebut. Refleks ini timbul bila bayi menyusui.
Apabila bayi tidak menyusu dengan baik, atau jika tidak dikosongkan dengan sempurna, maka terjadi bendungan air susu yang merupakan awal dari terjadinya mastitis dan jika tidak mendapatkan penanganan yang baik maka akan timbul abses. Mastitis juga dapat disebabkan karena payudara yang tidak dirawat dengan baik, sehingga mengakibatkan putting susu pecah yang merupakan porte de entre dari kuman Stafilokokus Aureus, dan jika tidak mendapatkan penanganan yang tidak baik maka akan berlanjut ke abses.

4. Pembagian dari mastitis.
Mastitis ada 2 yaitu:
- Mastitis gravidarum.
- Mastitis puerperalis
Penyakit ini boleh dikatakan hampir selalu timbul pada waktu hamil dan laktasi.
Sedangkan mastitis berdasarkan tempatnya dapat dibedakan menjadi:
- Mastitis yang menyebabkan abses dibawah areola mammae.
- Mastitis ditengah-tengah mammae yang menyebabkan abses ditempat itu.
- Mastitis pada jaringan dibawah dorsal dari kelenjar-kelenjar yang menyebabkan abses antara mammae dan otot-otot dibawahnya.

5. Kuman penyebab mastitis dan cara masuknya kuman.
Terjadi bendungan ASI merupakan awal dari infeksi payudara. Pada umumnya yang dianggap pemicu adalah putting susu yang luka atau lecet, dan kuman yang menjalar ke duktulus-duktulus dan sinus. Bakteri yang sering menyebabkan infeksi payudara yang ditemukan pada pambiakan pus adalah Stafilokokus Aureus.

6. Tingkatan mastitis, pengobatan dan cara penanganannya.
Tingkat mastitis ini ada 2 yaitu:
- Tingkat awal peradangan (non infeksi).
Pada tingkatan ini mastitis sering diakibatkan oleh bendungan ASI. Hal ini terjadi karena proses menyusui yang tidak berjalan dengan baik, dimana bayi tidak secara maksimal mendapatkan ASI.
Pada peradangan dalam taraf permulaan penderita hanya merasa nyeri setempat, taraf ini cukup memberi penyangga pada mammae itu dengan kain tiga segi, agar tidak menggantung yang memberika rasa nyeri, dan disamping itu perlu diberikan antibiotika.
Dalam hal antibiotika dapat dikemukakan bahwa kuman dari abses yang dibiakkan dan diperiksa resistensinya terhadap antibiotika ternyata banyak yang resistensi terhadap penisilin dan streptomisin. Knight dan Nolan dari Royal Infirmary di Edinburgh mengemukakan bahwa stafilokokus aureus yang dibiakkan, 93% resisten terhadap penisilin dan 55% terhadap streptomisin, akan tetapi hampir tidak resisten terhadap linkosin dan oksasilin, yang diberikan 500 mg setiap 6 jam selama 7-10 hari dan kalau ternyata alergis terhadap obat-obat ini, eritromisin 250 mg per oral 3 kali sehari selama 10 hari. Bantu agar ibu tetap meneteki, dianjurkan untuk menyangga payudaranya dan melakukan kompres hangat sebelum meneteki untuk mengurangi bengkak dan nyeri. Berikan parasetamol 500 mg dan ibu perlu dievaluasi selama 3 hari.
- Tingkat abses (infeksi)
Infeksi payudara dapat berlanjut menjadi abses. Dari tingkat radang ke abses berlangsung sangat cepat karena oleh radang duktulus-duktulus menjadi edematous, air susu terbendung, dan air susu yang terbendung itu segera bercampur dengan nanah. Gejala abses ini pada ibu yang menderita mastitis infeksi adalah warna kulit menjadi merah, nyeri bertambah hebat di payudara, kulit diatas abses mengkilap dan suhu tinggi (39-400C), sehingga ibu mengalami demam, dan pada pemeriksaan ada pembengkakan, dan dibawah kulit teraba cairan. Dan bayi dengan sendirinya tidak mau minum pada payudara yang sakit, seolah-olah dia tahu bahwa susu yang sebelah itu campur nanah. Didaerah payudara ini akan terlihat daerah kemerahan yang jelas. Meskipun demikian laktasi tidak harus disupresi karena mastitis. Ibu harus didorong untuk selalu mengeluarkan ASInya dengan menggunakan pompa atau secara manual, karena tindakan mempertahankan aliran ASI akan mengurangi jumlah mikroorganisme. Kompres hangat sebelum menyusui untuk mengurangi bengkak dan nyeri. Berikan parasetamol bila perlu dan lakukan evaluasi selama 3 hari.
Barikan antibiotika kloksasilin 500mg per oral 4 kali sehari selama 10 hari, atau eritromisin 250 mg per oral 3 kali sehari selama 10 hari.
Lakukan insisi. Lakukan insisi radial dari batas putting ke lateral untuk menghindari cedera. Anestesia umum dianjurkan. Tampon dan drain dilepaskan setelah 24 jam, ganti dengan tampon kecil. Jika masih banyak pus tetap berikan tampon dalam lubang.

Bidan sebagai tenaga medis harus dapat meningkatkan usaha preventif dan promotif terhadap perawatan payudara dengan jalan mengajarkan tentang cara pemeliharaan payudara, cara pemberian ASI yang benar, memberikan ASI secara bergantian kanan dan kiri dan diberikan sampai payudara kempes. Pemeliharaan payudara pada saat hamil dipersiapkan untuk masa laktasi. Dengan memakai BH yang longgar, maka perkembangan payudara tidak terhalang. Putting susu diperhatikan agar tetap bersih dan ditarik-tarik agar menonjol dan memudahkan pemberian ASI.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar