Tampilkan postingan dengan label Komunikasi Konseling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Komunikasi Konseling. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Maret 2010

Strategi Membantu Klien Dalam Pengambilan Keputusan

Eny Retna Ambarwati

Kemampuan dan ketrampilan dalam membuat keputusan, terutama dalam masalah kedaruratan merupakan hal yang sangat penting. Dalam konseling, pengambilan keputusan mutlak ada di tangan klien, sedangkan bidan membantu klien supaya keputusan yang diambil merupakan suatu keputusan yang tepat.
4 strategi yang dapat membantu klien dalam pengambilan keputusan
 Membantu klien kemungkinan meninjau pilihannya.
Beri kesempatan klien untuk meninjau kembali beberapa alternatif pilihannya, agar tidak menyesal atau kecewa terhadap pilihannya.
 Membantu klien dalam mempertimbangkan keputusan pilihan.
Melihat kembali keuntungan atau konsekuensi positif dan kerugiannya atau konsekwensi negatif.
 Membantu klien mengevaluasi pilihan.
Setelah klien menetapkan pilihannya, bantu klien untuk mencermati pilihannya.
 Membantu klien menyusun rencana kerja untuk menyelesaikan masalahnya.

Pengambilan keputusan menggunakan 3 K yaitu mempertimbangkan kondisi, kehendak dan konsekuensinya.
 identifikasi kondisi yang dihadapi oleh klien
 susunlah daftar kehendak / pilihn keputusan
 untuk setiap pilihan, buatlah daftar konsekuensinya baik yang positif maupun yang negatif.

Hal - hal yang perlu ditekankan dalam pengambilan keputusan
 Hati - hati dan bersikap bijaksana dalam pengambilan keputusan.
Pengambilan keputusan ini dibuat setelah klien diberi informasi secukupnya untuk menimbang klien sesuai dengan situasinya, diberi informed choise.
 Bantu klien dalam pengambilan keputusan dengan memberikan saran yang sesuai dengan riwayat kesehatan, keinginan dan situasi.
 Keputusan merupakan hak dan menjadi tanggungjawab klien.
 Konseling bukan proses informasi melainkan informasi setelah konselor memperoleh data atau informasi tentang keadaan dan kebutuhan klien, dan informasi yang diberikan sesuai dengan kondisi klien dan kebutuhannya.

Faktor - faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan.
 Fisik
Orang akan mengambil keputusan didasarkan pada pertimbangan fisik. Biasanya memilih hal – hal yang tidak berat dan memforsir tubuh serta tenaga. Ini tentunya didasarkan pada rasa yang dialami oleh tubuh seperti rasa sakit, tidak nyaman atau kenikmatan. Ada kecenderungan menghindari tingkah laku yang menimbulkan rasa tidak senang sebaliknya memilih tingkah laku yang menimbulkan kesenangan.
 Emosional
Pengambilan keputusan hanya didasarkan pada pengambilan keputusan atau perasaan, biasanya hal ini terjadi pada kaum perempuan. Sikap subyektifitas akan mempengaruhi sikap yang diambil, sehingga orang akan bereaksi pada suatu situasi secara subyektif
 Rasional
Pengambilan keputusan secara rasional biasanya didasarkan pada pengetahuan dan dilakukan oleh orang – orang terpelajar dan intelektual.
 Praktikal
Didasarkan pada ketrampilan individual dan kemampuan melaksanakannya. Seseorang akan menilai potensi diri dan kepercayaan diri melalui kemampuannya dalam bertindak.
 Interpersonal
Didasarkan pada pengaruh jaringan sosial yang ada. Hubungan antar satu orang ke orang lainnya dapat mempengaruhi tindakan individual.
 Struktural
Didasarkan pada lingkup sosial, ekonomi dan politik. Lingkungan mungkin memberi hasil yang mendukung atau mengkritik suatu tingkah laku tertentu.

Jenis - jenis pengambilan keputusan, saraswati, tarigan, 2002
 Pengambilan keputusan untuk tidak berbuat apa – apa
Membiarkan kejadian berlalu, tanpa berbuat apa – apa karena ketidaksanggupan atau merasa tidak sangup.
 Pengambilan keputusan intuitif, bersifat segera.
Terasa sebagai keputusan yang paling tepat dan langsung diputuskan.
 Pengambilan keputusan terpaksa, karena sudah krisis.
Sesuatu yang harus segera dilaksanakan.
 Pengambilan keputusan reaktif
Seringkali dilakukan dalam situasi marah atau tergesa – gesa.
 Pengambilan keputusan yang ditangguhkan
Dialihkan pada orang lain, membiarkan orang lain yang bertanggungjawab.
 Pengambilan keputusan secara hati - hati
Difikirkan secara baik – baik, mempertimbangkan berbagai pilihan.

Pemberian informasi dikatakan efektif apabila :
 Informasi yang diberikan spesifik, dapat membantu klien dalam membuat keputusan.
 Informasi disesuaikan dengan situasi klien dan mudah dimengerti.
 Memperhatikan hal - hal :
1. singkat dan tepat (pilih hal – hal penting yang perlu diingat klien)
2. menggunakan bahasa sederhana
3. gunakan alat bantu visual saat menjelaskan
4. beri kesempatan klien untuk bertanya dan minta klien untuk mengingat hal - hal penting.

Saat - saat sulit dalam KIP/K
 Diam
 Klien menangis
 Konselor meyakini bahwa tidak ada pemecahan bagi masalah klien
 Konselor melakukan kesalahan
 Konselor tidak tahu jawaban dari pertanyaan klien
 Klien menolak bantuan konselor
 Klien merasa tidak nyaman dengan jenis kelamin konselor
 Waktu yang diiliki konselor terbatas.
 Konselor tidak menciptakan hubungan yang baik
 Konselor dan klien sudah saling kenal
 Klien berbicara terus dan yang dibicarakan tidak sesuai dengan topik pembicaraan.
 Klien bertanya tentang hal - hal pribadi konselor
 Konselor merasa dipermalukan dengan suatu topik pembicaraan.
 Keadaan kritis.

Upaya mengatasi saat - saat sulit dalam KIP/K
 Diam
Klien tidak mau berbicara selama beberapa waktu. Hal ini terjadi pada klien yang merasa cemas atau marah.
o Apabila terjadi pada awal pertemuan, setelah beberapa saat, sebaiknya konselor memperhatikan hal ini dengan mengatakan : misalnya “saya mengerti hal ini sulit untuk dibicarakan”, biasanya pada awal – awal pertemuan klien –klien saya juga merasa begitu. Apakah ibu merasa cemas?
o Apabila klien diam karena marah, sebagai konselor anda dapat berkata : bagaimana perasaan ibu setelah berada disini sekarang?. Pertanyaan – pertanyaan ini harus diikuti dengan suasana hening selama beberapa saat, pada saat ini konselor memandang klien dan memperlihatkan sikap tubuh yang menunjukkan perhatian.
o Apabila terjadi pada pertengahan pertemuan, konselor harus memperhatikan pada konteks pembicaraan dan menilai mengapa hal ini terjadi. Mungkin hal tersebut terjadi karena klien merasa berat menceriterakan hal – hal yang pribadi atau suatu rahasia tentang dirinya atau ia tidak senang dengan sikap konselor. Pada umumnya lebih baik menunggu beberapa saat, memberikan kesempatan pada klien untuk mengekspresikan perasaan atau pikirannya, meskipun konselor merasa tidak nyaman dengan keadaan tersebut.
o Apabila klien diam karena sedang berfikir. Konselor tidak perlu berusaha memecahkan kesunyian, juga tidak perlu menunjukkan sikap tidak menerima.
 Klien menangis
Klien yang menangis tersedu – sedu membuat konselor merasa tidak nyaman. Reaksi wajar yang dapat kita lakukan adalah berusaha menenangkan, tetapi hal ini tidak selalu menguntungkan dalam konseling. Menangis bisa disebabkan karena beberapa alasan. Ada kemungkinan untuk melepaskan emosi. Dalam hal ini yang dapat dilakukan konselor adalah menunggu beberapa saat dan apabila terus menangis katakan bahwa tidak apa – apa kalau masih ingin menangis. Biasanya tangisan mereda sendiri setelah beberapa lama. Kadang – kadang menangis dilakukan untuk menarik perhatian atau untuk menghentikan pertanyaan – pertanyaan yang menyelidik lebih lanjut. Tangisan juga merupakan cara klien untuk memanipulasi konselor. Perlu ditegaskan lagi bahwa cara terbaik adalah dengan memberi kesempatan klien untuk menangis.
 Konselor meyakini bahwa tidak ada pemecahan bagi masalah klien
Kondisi ini biasanya mencemaskan, konselor merasa tidak tau harus berbuat apa. Perlu diingat bahwa fokus utama konseling adalah pada subyek atau orangnya, bukan pada masalahnya. Meskipun masalah yang dihadapi sangat sulit, seperti misalnya seorang remaja putri ingin melakukan aborsi, sementara konselor tidak mungkin memenuhi permintaan tersebut atau misalkan seorang ibu yang kehilangan bayi yang baru dilahirkannya. Dalam hal ini tidak berarti bahwa konselor tidak dapat menolong klien. Salah satu langkah yang dapat dilakukan terhadap klien yang mendesak ingin dibantu konselor dalam memecahkan masalahnya adalah dengan mengatakan pada klien bahwa meskipun konselor tidak dapat mengubah keadaaan tetapi konselor akan selalu menyediakan waktu untuk klien, membantu klien saat – saat sulit. Semakin mengenal klien secara baik maka akan sangat membantu, karena pada klien dapat timbul perubahan pandangan atau pemikiran baru sehingga klien lebih siap dalam menghadapi masalahnya. Semakin lama klien mengeksplorasi dan mengekspresikan dirinya maka semakin memungkinkan baginya untuk memehami mengapa keadaan itu terjadi pada dirinya dan semakin menguatkan dirinya dalam menghadapi kesulitan.
 Konselor melakukan kesalahan
Dalam banyak hal konselor dapat melakukan suatu kesalahan, konselor mungkin salah mengartikan maksud kata – kata klien, konselor mungkin tidak konsentrasi sehingga bertanya berkali – kali pada klien tentang suatu hal, konselor mungkin memberikan informasi yang salah, konselor mungkin merasa malu atau marah karena ucapan klien. Hal utama yang terpenting untuk menciptakan hubungan yang baik dengan klien adalah bersikap jujur. Menghargai klien adalah salah satu hal yang penting dalam konseling. Menghargai dan mempercayai klien dapat ditunjukkan dengan cara mengakui bahwa konselor telah melakukan kesalahan. Minta maaflah apabila salah atau keliru. Misalnya konselor dapat mengatakan : maaf saya lupa bahwa tadi ibu sudah mengatakan kalau ibu sudah memiliki tiga orang anak. Seandainya konselor tersinggung atau marah karena kata – kata klien, konselor perlu menyadari dan dapat mengatakan penyesalan. Perlu diketahui bahwa apapun reaksi emosi konselor, akan dirasakan klien. Semakin terbuka perasaan kita selama pertemuan dengan klien maka semakin terbuka pula perasaan klien.
 Konselor tidak tahu jawaban dari pertanyaan klien
Hal ini merupakan merupakan kecemasan yang biasa diutarakan oleh konselor. Seperti situasi sebelumnya, sudah sepantasnya mengatakan bahwa konselor tidak dapat menjawab pertanyaan klien, tetapi akan berusaha mencari informasi tersebut untuk klien. Konselor dapat menunjukkan sumber lain untuk menjawab pertanyaan tersebut. Mengelak pertanyaan atau menjawab tanpa dasar pengetahuan akan lebih berpengaruh negatif dalam hubungan dengan klien yang sudah terbina dengan baik, lebih baik mengakui keterbatasan pengetahuan konselor.
 Klien menolak bantuan konselor
Pada pertemuan pertama penting sekali menjajagi mengapa dan apa yang mendasari atau mendorong klien untuk datang berkonsultasi, banyak klien yang merasa terpaksa datang, mungkin karena diperintah oleh mertua, mungkin karena takut mengetahui ada sesuatu dengan kondisi kesehatannya, dsb. Membuka pembicaraan dengan menanyakan mengapa mereka datang ke klinik akan sangat membantu . Selanjutnya, kita dapat mengatakan : ”Saya dapat mengerti perasaan ibu, saya senang ibu datang hari ini untuk mendiskusikan tentang kondisi kesehatan ibu, kita punya waktu untuk membicarakan tentang kebutuhan-kebutuhan ibu”. Kalau klien sama sekali tidak mau bicara, tekankan pada hal-hal yang positif, paling tidak ia sudah datang dan berkenalan dengan konselor, mungkin ia mau mempertimbangkan kembali. Sarankan untuk melakukan pertemuan lanjutan.
 Klien merasa tidak nyaman dengan jenis kelamin konselor
Kesulitan ini diucapkan klien dengan mengatakan :”Saya canggung membicarakan hal itu dengan wanita.” Saya berharap berhadapan dengan laki-laki.” Kemungkinan hal itu tidak disampaikan secara verbal, tetapi konselor dapat melihat dari sikap klien. Dalam situasi seperti ini, sebaiknya konselor mengemukakan hal ini dengan mengatakan : ”Barangkali Bapak mengharapkan akan berhadapan dengan konselor pria?”. Selanjutnya katakan :”Orang kadang-kadang awalnya merasa lebih nyaman berbicara dengan seseorang yang sama (atau berlawanan) jenis kelaminnya, menurut pengalaman saya semakin lama hal itu semakin tidak penting apabila kita sudah semakin mengenal teman bicara kita. Bagaimana kalau kita coba lanjutkan dan lihat bagaimana nantinya.!” Biasanya klien menerima, dan masalah ini hilang dengan sendirinya bila konselor bersikap penuh perhatian, menghargai klien dan tidak menilai terhadap klien. Pengunaan kata-kata menunjukkan perhatian positif dan refleksi akan sangat membantu karena klien merasa diterima apapun kata-kata yang diucapkannya. Apabila klien menyampaikan sebelumnya bahwa dirinya menghargai konselor yang sama (atau berbeda) jenis kelaminnya, hal itu bisa dipenuhi apabila memungkinkan. Tetapi pada kenyataannya berhadapan dengan seseorang dengan jenis kelamin berbeda dan menjadi masalah bagi klien, merupakan latihan yang baik bagi klien. Karena itu sebelumnya konselor harus dapat melihat apakah klien betul-betul mau mencoba.
 Waktu yang diiliki konselor terbatas.
Sebaiknya sejak awal pertemuan klien mengetahui berapa lama waktu konselor yang tersedia untuk dia. Ada saat di mana konselor tidak memiliki waktu sebanyak biasanya. Karena itu konselor sebaiknya memberikan informasi tersebut beberapa saat sebelum pertemuan, meminta maaf, menjelaskan sebab keterbatasan waktunya dan menunjukkan bahwa konselor mengharapkan bertemu klien pada pertemuan selanjutnya. Meskipun waktunya sebentar , dapat diperoleh suatu hasil pembicaraan seperti halnya demonstrasi bermain peran peserta. Lebih baik memanfaatkan sedikit waktu yang ada daripada meminta klien pergi.
 Konselor tidak menciptakan hubungan yang baik
Kadang-kadang ”rapport” yang baik dengan klien sulit terjadi. Hal ini bukan berarti konseling harus diakhiri atau mengirimkan klien kepada konselor lain. Akan lebih baik konselor minta pendapat kepada teman sesama petugas di kliniknya untuk mengamati pertemuan dan melihat dimana letak kesulitannya, apakah ada sikap klien yang membuat konselor merasa ditolak klien. Segala kemungkinannya perlu dijajagi. Salah satu aspek penting dari pelatihan adalah bahwa konselor belajar mengatasi situasi yang tidak nyaman bagi dirinya sebelum konseling yang sesungguhnya dilakukan. Mengirim atau meminta klien pergi tidak akan membantu, tetapi mungkin berpengaruh buruk pada klien. Lebih baik mencoba melanjutkan konseling, terutama dengan membuat klien merasa llebih nyaman tentang dirinya sendiri.
 Konselor dan klien sudah saling kenal
Pada kelompok masyarakat kecil biasanya antara konselor dan klien sudah saling kenal. Kalau hubungan ini biasa-biasa saja(tidak terlalu akrab), konselor dapat melayani seperti pada umumnya, tetapi perlu ditekankan bahwa kerahasiaan akan tetap terjaga, dan konselor akan bersikap sedikit berbeda dengan sikap di luar konseling terhadap klien sebagai temannya. Apabila hubungan konselor dan klien sudah sangat akrab, perlu disampaikan pada klien bahwa lebih baik pindah ke konselor lain yang melayani konseling berdasarkan pengalaman, hubungan akrab ini dapat sangat mempengaruhi jalannya konseling.
 Klien berbicara terus dan yang dibicarakan tidak sesuai dengan topik pembicaraan.
Situasi ini kebalikan dari situasi dimana klien tidak mau berbicara, tetapi sama-sama menimbulkan kecemasan dan kesulitan bicara bagi konselor. Apabila klien terus-menerus mengulang pembicaraan , setelah beberapa saat perlu dipotong pembicaraannya dengan mengatakan seperti : “Maafkan saya, bu, apakah ibu tegang atau cemas tentang sesuatu, saya perhatikan ibu menyatakan sesuatu hal yang sama berulang-ulang, apakah ada kesulitan yang disampaikan ?” Pertanyaan seperti ini membantu klien memfokuskan kembali percakapan.
 Klien bertanya tentang hal - hal pribadi konselor
Hubungan konselor-klien adalah hubungan profesional, bukan hubungan sosial. Hal ini penting karena dengan demikian konselor bersikap berbeda dengan sikap orang lain dalam kehidupan klien. Hal ini mungkin sulit dimengerti klien pada awalnya, terutama kalau konselor bersikap akrab dan hangat. Resiko dari hubungan seperti ini adalah konselor mendapat pertanyaan-pertanyaan yang bersifat pribadi dari klien yang harus dijawab. Hal ini sebaiknya tidak dilakukan karena beberapa alasan. Hal ini akan mengalihkan perhatian konselor dari klien. Hal ini akan mengarah pada serangkaian pertanyaan yang pada awalnya bersifat ringan saja, lama kelamaan pertanyaan akan menjurus kepada masalah-masalah pribadi yang tidak ingin dijawab konselor. Hal ini akan menimbulkan salah pengertian pada klien, seakan ada hal yang salah pada konselor atau pada klien karena perhatian pada masalah tersebut. Kadang-kadang klien ingin tahu apakah konselor pernah mengalami hal yang sama. Jawaban ”YA” akan membuat klien tidak yakin konselor dapat menolong. Sementara kalau dijawab ”TIDAK” klien akan merasa konselor tidak tahu masalahnya. Akan lebih baik apabila ada pertanyaan-pertanyaan pribadi konselor yang menyatakan bahwa kalau konselor bercerita tentang dirinya tidak akan membantu klien , oleh karena itu lebih baik tidak bercerita. Klien akan menerima aturan ini. Hal ini akan lebih baik daripada menjawab sebagian saja dari pertanyaan klien, bukan semuanya, atau lebih-lebih mengelak karena akan merusak kepercayaannya/keterbukaan klien terhadap konselor.
 Konselor merasa dipermalukan dengan suatu topik pembicaraan.
 Keadaan kritis.

Macam-Macam Klien Dalam Askeb

Eny Retna Ambarwati


Dalam melakukan pelayanan kebidanan sesuai dengan wewenang dan lingkup pelayanan, maka konseling dalam bidang kebidanan meliputi :
1. Komunikasi pada bayi dan balita
Komunikasi pada bayi dan balita
Perkembangan komunikasi (5 fase)
a. Fase pre liguistic (fase sebelum bicara)
Suara pertama yang dikeluarkan bayi baru lahir adalah tangis sebagai reaksiterhadap tekanan udara dan suhu luar uterin. Kebutuhan komunikasi lewat tangis sampai usia 1 tahun.
Pada fase ini termasuk bunyi refleksi (berupa reflek vocal) meliputi :
1). Babling (meraban)
Dimulai ketika bayi mulai tahu tentang suaranya, senang mendengar suaranya kemudian diulang, seperti bicara sendiri. Ini berlangsung selama 7 bulan, bayi berusaha meniru kemudian timbul laling (mengulang suara yang didengarnya).
2). Echolalia
Mengulang gema suara dari suara yang diucapkan orang lain. Pertumbuhan bicara dan bahasa anak cepat bila orangtua mengulang suara bayi dan bayi membalas menirunya.
b. Kata pertama
1). Usia 10 – 12 bulan timbul pengertian pasif dari bahasa.
Bayi memberi respon terhadap kata yang familier misalnya ada yang menyebut ibu maka dia akan berusaha mencari ibunya.
2). Bicara sesungguhnya mulai usia 12 – 18 bulan.
Satu kata mengandung arti satu kalimat, misal : mengatakan makan berarti saya mau makan.
3). Menggunakan empat kata pada usia 15 bulan.
4). Sepuluh kata pada usia delapan belas bulan.
c. Kalimat pertama
1). Usia 2 tahun anak mulai menyusun kata.
2). Disebut periode permulaan pembicaraan.
3). Kalimat anak mempunyai arti pribadi, tidak ikut aturan.
4). Kadang – kadang disusun kombinasi kata yang aneh.
d. Kemampuan bicara egosentris dan memasyarakat
Jean peaget (psikolog perancis) mengkategorikan kemampuan bicara egosentris dan memasyarakat pada usia 4 – 11 tahun.
Kemampuan bicara egosentris (berpusat pada diri sendiri) dibedakan 3 macam :
1). Repetitif (pengulangan)
Kata yang di dengar diulang – ulang.
2). Monolog (bicara satu arah) pada anak para sekolah.
Anak bicara sendiri, memainkan banyak peran dengan kata – kata sendiri.
3). Monolog kolektif
Beberapa anak berkumpul dalam suatu tempat tapi mereka bicara sendiri – sendiri, biasanya asyik dengan mainannya sendiri.
Anak pra sekolah bicara egosentris mulai berkurang dan kemampuan bicara memasyarakat mulai menonjol.
e. Perkembangan semantik
Semantik adalah pengetahuan yang mempelajari arti dari kata pada bahasa yang diajarkan. Anak pertama kali memahami arti kata konkrit dan abstrak.
Faktor - faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa
a. Intelegensi (kecerdasan)
Anak yang mempunyai kemampuan intelektual rendah akan lebih rendah perkembangan bahasanya dibanding dengan anak yang mempunyai intelegensi normal atau tinggi.
b. Jenis kelamin
1). Pada tahun pertama tidak banyak perbedaan, setelah itu wanita lebih superior.
2). Usia sekolah akhir setara kembali dalam perbendaharaan kata, laki – laki lebih unggul dalam kata – kata tertentu, wanita unggul dalam tata bahasa.
c. Bilingual (dua bahasa)
Lambert and tucker (1972) : perkembangan bahasa tidak terhambat pada anak dengan dua bahasa sampai periode tujuh tahun, bahkan unggul dalam kreatifitas.
d. Status tunggal atau kembar
1). Anak kembar rangsang bicara kurang dari oranglain.
2). Kurang motivasi bicara dengan orang lain
e. Rangsangan atau dorongan orangtua
Orangtua yang tidak instruktif maka anak lebih cepat dalam perkembangan bahasa.
f. Sosial ekonomi
1). Sosial ekonomi tinggi lebih unggul ditunjang fasilitas.
2). Sosial ekonomi rendah lebih unggul dalam dialek.
Prinsip komunikasi yang efektif pada anak
a. Mengikuti perkembangan psikologis anak
b. Kontak kasih sayang orangtua dapat memperkuat kepribadian anak
c. Pentingnya dalam komunikasi : belaian, dukungan dan sentuhan akan menimbulkan rasa senang dan bahagia.
d. Dorongan bidan yaitu dengan membantu ibu serta pihak lain dalam memberikan dukungan rangsang aktif dalam bahsa dan emosi.

2. Komunikasi pada remaja
Konseling yang diberikan pada anak laki – laki dan perempuan pada masa remaja bertujuan memberikan pemahaman dan upaya penyesuaian diri terhadap perubahan fisik dan emosi yang terjadi pada usia remaja. Pelaksanaan konseling pada remaja menggunakan pendekatan kelompok. Pertama, bidan perlu menjalin hubungan komunikasi secara terbuka, menerima remaja secara utuh, sehingga remajapun dapat secara terbuka mengungkapkan hal – hal yang belum diketahui.
Titik berat masalah dalam komunikasi remaja :
• Perubahan fisik/biologis sesuai dengan umur perkembangan remaja putra/putri.
• Perubahan emosi dan perilaku pada usia remaja
• Proses kehamilan yang mungkin dapat terjadi pada usia remaja dan dampaknya.
• Penyalahgunaan obat dan bahan yang berbahaya, termasuk dalam kelompok narkoba.
• Kenakalan remaja
• Hambatan dalam belajar
Hal - hal yang perlu diperhatikan dalam komunikasi pada remaja :
• Kenyamanan dalam menerima informasi
• Memperhatikan cara pandang remaja dalam mensikapi pesan yang disampaikan
• Memfokuskan pada persoalan yang akan disampaikan
• Menggunakan bahasa yang mudah dimengerti dan nyaman untuk didengar
• Menjalin sikap terbuka dan menumbuhkan kepercayaan pada remaja
• Bisa menguasai dan mengendalikan emosi pada remaja saat penyampaian pesan
• Menjalin keakraban dengan remaja
Bidan sebagai konselor dalam masalah tersebut perlu melakukan pelayanan konseling, baik pada keluarga dalam arti orangtua maupun remaja yang bermasalah, yang antara lain bertujuan untuk :
 Mencegah upaya abortus provokatus
 Mendorong ibu (remaja yang hamil) untuk mencari pelayanan kesehatan.
 Mempersiapkan kelahiran bayi secara normal
 Mempersiapkan ibu dan keluarga agar menerima kelahiran bayi.
 Pada orangtua remaja, mendorong untuk diresmikannya pernikahan putra – putrinya.

3. Komunikasi pada calon orangtua
Aktifitas sebagai calon orangtua/menjadi orangtua membantu pemahaman diri untuk menjadi orangtua, baik sebagai ayah maupun sebagai ibu. Perubahan status kehidupan sesuai dengan perkembangan terjadi secara alami. Salah satu peran bidan ketika menghadapi klien adalah melaksanakan kegiatan bimbingan dan konseling kebidanan. Untuk memperjelas arah konseling kebidanan pada calon oangtua, perlu adanya pemahaman terlebih dahulu tentang hal – hal sebagai berikut :
 Menjadi orangtua
Menjadi orangtua adalah suatu proses kehidupan yang bermula dari terbentuknya pasangan suami istri menjadi keluarga dan berlanjut dengan adanya keturunan.
 Tanggungjawab sesuai sebagai kepala keluarga dan sebagai ayah.
Dalam perubahan status menjadi ayah atau kepala keluarga, merupakan suatu keadaan yang membuat kaum pria secara psikologis harus mampu membagi kasih terhadap istri dan anak. Memenuhi kebutuhan keluarga secara fisik dan psikologis, secara moral dan material.
 Tanggungjawab perempuan sebagai ibu dalam keluarga
Peran ibu dalam keluarga sangat kompleks. Ibu sebagai penerus keturunan, pendidik dalam keluarga dan sebagai pendamping suami serta sebagai pelaksana, menjalankan perekonomian dalam keluarga bersama suami.
Titik berat komunikasi pada calon orangtua :
• Memberikan penjelasan secara fisiologis peristiwa yang disebut menstruasi
• Memberikan bimbingan tentang perawatan diri sehubungan dengan peristiwa menstruasi.
• Memberikan bimbingan tentang persiapan perkawinan dihubungkan dengan NKKBS/(keluarga berkualitas)
• Persyaratan – persyaratan kesehatan yang sangat menentukan sebagai calon ibu
• Penyesuaian diri terhadap peran baru

4. Komunikasi pada wanita hamil
Konseling pada wanita hamil terutama ditujukan pada ibu dengan kehamilan pertama. Konseling yang diberikan oleh bidan pada trimester pertama dan pada perkembangan janin sesuai dengan usia kehamilan, serta perubahan yang terjadi pada ibu sendiri pada ibu sendiri dan pencegahannya.
Konseling pada kehamilan trimester ke tiga berfokus pada intervensi yang diberikan pada klien adalah keadaan janin dalam rahim, posisi janin yang berkaitan dengan letak janin. Persiapan persalinan baik yang normal maupun yang tidak normal didahului dengan penjelasan tanda persalinan. Bidan juga memberikan informasi mengenai tempat bersalin sesuai dengan kondisi ibu. Bidan juga memberikan informasi tentang hal – hal yang berkaitan dengan laktasi, mencakup proses laktasi dan pemberian ASI.
Hal - hal yang menimbulkan kecemasan pada wanita hamil ;
• Belum ada pengalaman hamil (hamil yang pertama)
• Anak tidak diharapkan (pernah ada usaha untuk menggugurkan, kehamilan tidak diharapkan)
• Riwayat persalinan tidak menyenangkan (anak lahir ab normal, anak meninggal, terjadi perdarahan)
Prinsip komunikasi pada wanita hamil ;
• Pesan yang disampaikan sesuai dengan kondisi ibu hamil
• Informasi yang disampaikan menyangkut kehamilan dan persiapan melahirkan.
• Menciptakan kenyamanan dan keakraban saat menyampaikan pesan
• Tidak membuat penerima menjadi stres dengan informasi yang disampaikan

5. Komunikasi pada ibu bersalin
Kegiatan konseling pada ibu bersalin merupakan pemberian bantuan pada ibu yang akan melahirkan dengan kegiatan bimbingan proses melahirkan. Tujuan aktivitas ini untuk kesejahteraan ibu dan proses kelahiran dapat berjalan dengan semestinya.
Titik berat komunikasi pada ibu bersalin ;
• Difokuskan pada tehnik - tehnik persalinan seperti tehnik mengejan atau mengatur pernafasan.
• Pemberi pesan harus sabar dalam memberikan informasi pada saat ibu bersalin sehingga ibu yang sedang bersalin merasa nyaman dan tanggap dengan isi pesan yang diberikan sehingga bisa mempraktekkan sesuai dengan apa yang diharapkan.
Prinsip komunikasi pada ibu bersalin :
 Menjalin hubungan yang mengenakkan dengan klien.
Bidan menerima klien apa adanya dan memberikan dorongan verbal yang positif.
 Kehadiran
Merupakan bentuk tindakan aktif keterampilan yang meliputi mengatasi kebingungan, memberikan perhatian total pada klien yang bersalin difokuskan secara fisik dan psikologis.
 Mendengarkan
Bidan selalu mendengarkan dan memperhatikan keluhan – keluhan klien
 Sentuhan dalam mendapingi klien yang bersalin
Sentuhan bidan terhadap klien akan memberikan rasa nyaman dan dapat membantu relaksasi.
 Memberikan informasi tentang kemajuan persalinan
Hal ini diupayakan untuk memberikan rasa percaya diri bahwa klien dapat menyelesaikan persalinan.
 Memandu persalinan dengan memandu instruksi khusus tentang bernafas, berelaksasi dan posisi postur tubuh.
 Mengadakan kontak fisik dengan klien dengan menggosok punggung, mengelus dan menyeka keringat serta membersihkan wajah klien.
 Memberikan pujian pada klien atas usaha yang telah dilakukan
 Memberikan ucapan selamat pada klien

6. Komunikasi pada ibu nifas
Bantuan konseling pada ibu nifas dalam hal adaptasi pada masa nifas, tehnik menyusui dan perawatan payudara atau manajemen laktasi. Pemahaman klien terhadap keadaan dirinya perlu memperoleh bantuan, hal tersebut karena klien masih dalam kondisi lemah, lelah akibat persalinan, adanya perasaan nyeri setelah melahirkan, proses involusi, proses lochea.
Prinsip komunikasi pada ibu nifas :
• Fokus pada masalah nifas
• Disesuaikan kondisi ibu
• Pesan mudah dimengerti dan dipahami
• Pemberian contoh sesuai

7. Komunikasi pada ibu meneteki
Komunikasi ditekankan pada peranan ibu untuk memberikan air susu kepada bayi sebagai wujud tali kasih.
 Perubahan fisiologis
Kelenjar susu mulai bekerja yang dipengaruhi hormon – hormon maka mulailah masa menyusui.
 Perubahan psikologis
o Ibu merasa terpisah dengan bayinya. Gejolak emosi yang muncul : ibu cemas dengan keselamatan bayinya, cemas tidak dapat memberi ASI dan perawatan cukup tetapi ada juga yang sebaliknya benci kepada anaknya.
o Kondisi yang mencemaskan dimana ibu takut menyusui bayinya, takut payudara jadi jelek, masalah lain karena ASI tidak keluar, takut bayi kurang makan / ASI.
Komunikasi ditekankan pada peranan ibu untuk memberikan air susu kepada bayi sebagai wujud tali kasih.

8. Komunikasi pada akseptor KB
Pelaksanaan komunikasi :
1. Berorientasi pada penjelasan efek samping pemakaian kontrasepsi dan cara mengatasi
2. Cara kerja alat kontrasepsi dan cara pemakaian.

9. Komunikasi pada wanita masa klimakterium dan menopause
Pelaksanaan komunikasi :
• Penjelasan bahwa menopause adalah satu siklus kehidupan wanita.
• Deteksi dini terhadap kelainan yang berhubungan dengan gangguan reproduksi pada usia subur maupun klimakterium.
• Memberikan informasi tempat – tempat pelayanan kesehatan yang berkaitan dengan cek kesehatan khususnya kesehatan reproduksi.
• Membantu klien dalam pengambilan keputusan
• Komunikasi pada menopause harus memperhatikan sifat - sifat klien (menopause) agar pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik.
• Menggunakan alat bantu untuk mempermudah memahami pesan yang disampaikan karena fungsi organ tubuh mulai berkurang.

10. Komunikasi pada wanita dengan gangguan reproduksi
Pelaksanaan komunikasi :
1. Menjelaskan penyebab/ kemungkinan gangguan yang diderita
2. Deteksi dini terhadap kelainan yang berhubungan dengan gangguan reproduksi.
3. memberikan informasi tempat – tempat pelayanan kesehatan yang berkaitan dengan cek kesehatan atau rujukan khususnya kesehatan reproduksi.
4. Membantu klien dalam pengambilan keputusan
5. Memberikan suport mental

Kegiatan Kelompok Sebagai Salah Satu Kegiatan Bidan

Eny Retna Ambarwati


A. Definisi Komunikasi kelompok
1. Suatu bentuk komunikasi antara dua atau lebih orang yang berinteraksi satu dengan yang lain untuk satu tujuan. Orang – orang yang terlibat biasanya mengisi peran – peran dan mentaati peraturan – peraturan serta norma – norma yang secara inplisit atau eksplisit disetujui para anggotanya. (singgih, 2003).
2. Sekumpulan orang yang mempunyai tujuan bersama, yang berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama, mengenal satu sama lainnya dan memandang mereka sebagai bagian dari kelompok besar tersebut. Contoh : kelompok, keluarga, kelompok studi dan kelompok diskusi. (sarjana komunikasi amerika).

B. Kegunaan komunikasi kelompok
Menurut Handy (1985) kegunaan komunikasi kelompok meliputi :
1. Memenuhi kebutuhan sosial
2. Membentuk konsep diri
3. Memberi / menerima dukungan dan bantuan
4. Berbagi dengan orang lain

C. Ciri Kepemimpinan dalam kelompok
Hampir semua kelompok mempunyai seorang pemimpin, apakah ia ditunjuk secara resmi atau pengaturan yang tidak resmi. Tidak jarang kita menemukan pemimpin kelompok yang sepenuhnya mendominasi interaksi, terlepas apakah ia ditunjuk secara resmi atau tidak resmi (hargie et al, 1981). Anggota perorangan dari sebuah kelompok seringkali muncul untuk memberikan kepemimpinan ketika kemahiran, pengetahuan atau keterampilan unik mereka dibutuhkan oleh kelompok. Adapun ciri – ciri kepemimpinan menurut baron et al adalah :
1. Berorientasi pada tugas.
Menggunakan waktu secara efektif, menentukan prioritas secara jelas dan sering membuat keputusan eksekutif. Kadang – kadang kelompok perlu mempunyai pemimpin yang berorientasi pada tugas untuk menyelesaikan masalah dengan segera.
2. Berorientasi pada orang
Gaya kepemimpinan ini lebih peduli pada perasaan – perasaan dan masalah – masalah anggota kelompok. Kepeduliannya adalah untuk orang bukan untuk tugas. Jenis kepemimpinan ini dapat menghasilkan moral kelompok yang lebih tinggi.

D. Ciri – ciri kelompok yang kompak
1. Organisasi yang baik
Faktor ini mengacu pada kejelasan anggota – anggota kelompok akan peran mereka didalam kelompok. Juga terdapat interaksi yang efektif diantara anggota kelompok. Ada perasaan pengaturan yang baik pada aktifitas kelompok dan ini membuat anggota merasa nyaman dan aman didalam kelompok.
2. Hubungan yang baik
Faktor ini ditandai oleh pertukaran interaksi yang bebas dan mudah diantara anggota kelompok dan bisa dibuktikan oleh adanya perasaan menyukai diantara anggota kelompok. Inilah yang disebut oleh dion dkk (1978) sebagai ikatan efektif diantara anggota kelompok.
3. Riwayat keberhasilan yang baik
Ciri ketiga dari kelompok yang sangat kompak adalah kemampuan yang jelas untuk melakukan dan menyelesaikan tugas – tugas yang diberikan kepadanya.

E. Penyelesaian masalah oleh kelompok
Sebuah sifat positif dari kelompok adalah kemampuannya untuk menyelesaikan masalah – masalah yang mungkin terlalu rumit untuk diselesaikan secara perorangan. Smith dan Bass (1992) mengidentifikasi dua jenis kelompok yang digunakan dalam penyelesaian masalah, yaitu :
1. komite / kelompok pembuat keputusan
Biasanya kelompok – kelompok seperti ini ditunjuk oleh manajer untuk menyelesaikan masalah – masalah tertentu atau menyediakan nasehat dan analisis pada suatu area khusus. Pada umumnya, komite seperti ini bisa sangat resi dengan adanya penunjukan ketua, sekretaris serta pembuatan laporan – laporan pertemuan.
2. kelompok sumbang saran.
Jenis kelompok ini biasanya mengadakan rapat untuk menghasilkan sejumlah besar ide dengan cepat, untuk menyediakan pemahaman – pemahaman yang mungkin baru untuk menyelesaikan atau memikirkan kembali sebuah masalah. Latar belakang anggota kelompok yang bervariasi dan individualistik merupakan sebuah sumber yang kaya untuk pencapaian tugas kelompok. Priestly et al (1978) mengidentifikasi empat aturan dasar pelaksanaan sumbang saran yang harus ditaati :
a. tidak boleh dilakukan penilaian pada ide – ide sampai acara selesai.
b. kelompok harus menganggap dirinya sebagai penghasil sejumlah besar ide dan tidak mengkhawatirkan kualitas dari ide – ide.
c. anggota kelompok harus dibiarkan untuk berfikir dengan bebas.
d. ide – ide yang ditawarkan anggota kelompok harus dihargai dan dikembangkan anggota kelompok lain.
Selain yang tersebut diatas, menurut beberapa ahli komunikasi, tahap – tahap penyelesaian masalah pada suatu kelompok yang kompak harus memenuhi tiga tahap :
1. mengklarifikasi tugas yang harus diselesaikan
2. mengidentifikasi solusi yang harus dilaksanakan
3. membuat dan mengimplementasikan rencana tindakan

F. Kepemimpinan dalam kelompok
gaya kepemimpinan dalam kelompok komunikasi ada 2 :
1. gaya tunggal
berdasarkan pencapaian tugas yang telah ditentukan oleh kelompok
2. gaya eklektik
berdasarkan gaya – gaya yang berpusat pada anggota kelompok atau berdasarkan pembagian pada tugas.

G. Karakteristik kelompok menurut hargreavest (1975)
1. anggotanya memiliki hubungan tatap muka
2. terdapat lebih dari satu anggota
3. anggotanya memiliki tujuan atau maksud bersama
4. anggotanya dibeda – bedakan kedalam struktur
5. anggotanya menganut sekumpulan norma – norma
Handy (1985) membagi sepuluh fungsi – fungsi organisasi yang dapat dicapai oleh kelompok yang kompak, yakni :
1. pembagian kerja
2. penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan
3. pengolahan informasi
4. pengumpulan informasi dan ide
5. pengelolaan dan pengendalian kerja
6. menguji dan meratifikasi keputusan
7. koordinasi dan penghubung
8. meningkatnya komitmen dan keterlibatan
9. penyelesaian konflik
10. penyelidikan ke masa lampau

H. Perbedaan kelompok kecil dan kelompok besar.
1. kekompakan kelompok besar lebih lemah jika dibanding kelompok kecil
2. kelompok kecil memiliki karakteristik kelompok yang unik diantara anggotanya.
3. kelompok besar cenderung lebih resmi

I. Strategi dalam menghadapi kelompok peserta yang kurang mendukung kelancaran kegiatan
1. tipe pasif
a. Ajukan pertanyaan langsung pada peserta bersangkutan.
b. Mintalah mereka berbagi rasa berpasang – pasangan.
c. Mintalah untuk menulis komentar atau jawaban pertanyaan.
d. Berikan insentif kecil.
e. Merubah metode penyampaian dengan kegiatan yang lebih menarik atau dengan permainan.
2. tipe agresif
a. Ajukan pertanyaan tentang sebab sikap agresifnya. Misalnya : ibu lila bagaimana perasaan / pendapat ibu tentang hal ini ?
b. Beri kesempatan dan curahkan perasaan – perasaan tentang keadaannya.
c. Jangan menganggap orang tersebut mewakili kelompok, cek dengan kelompok (apakah semua orang berfikir seperti ini)
d. Persentasikan data
e. Prakarsai diskusi secara pribadi.
3. tipe banyak bicara
a. Beri tanggungjawab tertentu atau berikan kesempatan berperan sebagai pemimpin kelompok
b. Hindarkan pandangan terhadap peserta yang banyak bicara atau hadapkan tubuh pemandu kearah peserta yang lain.
c. Jika perlu beritahu peserta yang banyak bicara ini secara halus bahwa pendapatnya menarik, tapi kita juga membutuhkan pendapat yang lain.
d. Beri tugas menulis secara rinci tentang pendapatnya pada secarik kertas.
4. tipe pesimis
a. Jadilah pendengar aktif
b. Beri jawaban yang lebih positif tentang atas ungkapan – ungkapan pesimisnya.
Contoh : Bila berkata : ah saya kira itu tidak akan berhasil, maka jawablah dengan ungkapan : terimakasih, saya akan catat bahwa menurut pendapat anda hal ini tidak akan berhasil dan tidak perlu anda coba.
c. Tanyakan pendapat anggota lainnya tentang pendapat si pesimis tersebut.
5. tipe pelawak
a. Beri mereka tanggungjawab
b. Ajukan pertanyaan atau mintalah pendapat dan abaikan kata – kata lawakan mereka.
c. Pertimbangkan bahwa lawakan tertentu bisa mencairkan suasana.