Rabu, 24 Maret 2010

Sejarah Perkembangan Pelayanan dan Pendidikan Kebidanan

Eny Retna Ambarwati



Setelah mengikuti pembelajaran ini, mahasiswa dapat:
Menjelaskan perkembangan profesi pelayanan dan pendidikan bidan secara nasional maupun internasional dengan baik dan benar.


A. DI AUSTRALIA
Kebidanan dan keperawatan di Australia dimulai dengan tradisi dan latihan yang dipelopori oleh Florence Nightingale pada abad ke-19. Pada tahun 1824 kebidanan masih belum dikenal sebagai bagian dari pendidikan medis di Inggris dan Australia. Kebidanan masih banyak didominasi oleh dokter.
Sebagian besar wanita yang melahirkan tidak dirawat dengan selayaknya oleh masyarakat. Ketidakseimbangan seksual dan moral di Australia telah membuat prostitusi berkembang dengan cepat. Hal ini menyebabkan penduduk wanita banyak yang hamil dan jarang dari mereka yang dapat memperoleh pelayanan dari bidan maupun dokter karena status sosial mereka.
Pendidikan Bidan yang pertama kali di Australia dimulai pada tahun 1862. lulusan waktu itu telah dibekali dengan pengetahuan teori dan praktik. Pendidikan diploma kebidanan dimulai pada tahun 1893 dan mulai tahun 1899 hanya bidan yang sekaligus perawat yang telah terlatih yang boleh bekerja di rumah sakit.
Pada tahun 1913 sebanyak 30% persalinan ditolong oleh bidan. Meskipun ada peningkatan jumlah dokter yang menangani persalinan antara tahun 1900 sampai 1940, tidak ada penurunan yang berarti pada angka kematian ibu. Bidan terus disalahkan akan hal itu. Kenyataannya, wanita kelas menengah keatas yang ditangani oleh dokter dalam persalinannya mempunyai resiko infeksi yang lebih besar daripada wanita miskin yang ditangani oleh Bidan.
Kebidanan di Australia telah mengalami perkembangan yang pesat sejak 10 tahun terakhir. Dasar pendidikan telah berubah dari tradisional hospital based programme menjadi tertiary course of studies untuk menyelesaikan kebutuhan pelayanan dari masyarakat. Tidak semua institusi pendidikan kebidanan di Ausralia yang telah melaksanakan perubahan ini, beberapa masih menggunakan program pendidikan yang berorientasi pada rumah sakit.
Kekurangan yang dapat dilihat pada pendidikan kebidanan di australia hampir sama dengan pelaksanaan pendidikan di indonesia. Belum ada persamaan persepsi mengenai pengimplementasian kurikulum di masing – masing institusi, sehingga lulusan bidan mempunyai kompetensi klinik yang berbeda tergantung dari institusi pendidikannya. Hal ini ditambah dengan kurangnya kebijakan formal dan tidak adanya standar nasional. Menurut national review of nurse education 1994, tidak ada direct entri untuk pendidikan bidan di australia. Mahasiswa kebidanan harus menjadi perawat dahulu sebelum mengikuti pendidikan bidan. Sebab di australia kebidanan masih menjadi sub spesialisasi dalam keperawatan. Didalamnya termasuk pendidikan tentang keluarga berencana, kesehatan wanita, perawatan ginecologi, perawatan anak, kesehatan anak dan keluarga, serta kesehatan neonatus dan remaja. Adanya peraturan ini semakin mempersempit peran dan ruang kerja bidan.
Literatur yang tersedia bagi mahasiswa kebidanan masih kurang. Kurikulum yang ada sekarang ini dirasakan hanya sesuai untuk mahasiswa pemula saja atau intermedier sehingga kadang – kadang mahasiswa yang sudah terlatih di keperawatan kebidanan diberi porsi yang sama seperti pemula atau sebaliknya. Mahasiswa yang sebelumnya telah mendapat pendidikan kebidanan di keperawatan akan membawa konsep sakit (transisi dari filosofi sakit ke filosofi sehat) dalam kebidanan sedikit banyak akan menyulitkan mahasiswa.

B. DI AMERIKA SERIKAT
Pada sekitar tahun 1700, para ahli sejarah memperhitungkan bahwa angka kematian ibu di amerika serikat adalah sebanyak 95%. Wanita menjalani persalinan tidak dengan rasa bahagia, tetapi dengan perasaan takut pada kematian meskipun beberapa diantara mereka sudah ditolong oleh dokter. Salah satu alasan kenapa dokter banyak terlibat dalam persalinan adalah untuk mengikis praktik sihir yang masih ada saat itu. Wanita mulai melihat masalah – masalah dalam persalinan sebagai sesuatu yang alami, dimana dokter memegang kendali. Dokter banyak memberikan obat – obatan tetapi tidak mengindahkan aspek spiritual.
Tahun 1765 pendidikan formal untuk bidan mulai dibuka. Filofofi bahwa kelahiran bayi adalah sesuatu hal yang normal dan tidak dapat dipisahkan oleh kodrat wanita, mulai dibangun oleh bidan. Pada akhir abad ke 18, banyak kalangan medis yang berpendapat bahwa secara emosi dan intelektual wanita tidak dapat belajar dan menerapkan metode obstetrik. Pendapat ini digunakan untuk memfitnah bidan, sehingga bidan tidak mempunyai pendukung, tidak mempunyai banyak uang, tidak terorganisir, tidak melihat diri mereka sebagai seorang yang profesional. Sejak awal 1900 setengah persalinan di amerika serikat ditangani oleh dokter, bidan hanya menangai persalinannya wanita yang tidak mampu membayar dokter.
Tahun 1915 dokter joseph de lee menyatakan bahwa kelahiran bayi adalah proses patologis dan bidan tidak mempunyai peran didalamnya. Ia memberlakukan protap pertolongan persalinan di amerika serikat yaitu : memberikan sedatif pada awal inpartu, membiarkan serviks berdilatasi, memberikan ether pada kala II, melakukan episiotomi, melahirkan bayi dengan forcep, ekstraksi placenta, memberikan uterotonika, serta menjahit episiotomi. Akibat protap tersebut kematian ibu mencapai angka 600 – 700 kematian per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1900 – 1930 dan sebanyak 30 – 50 % wanita melahirkan dirumah sakit. Tahun 1940 dokter Grantly Dick meluncurkan buku tentang persalinan alamiah. Hal ini membuat para spesialist obstetrist berusaha meningkatkan peran tenaga diluar medis termasuk Bidan.
Tahun 1955American College of Nurse – Midwifery (ANCM) dibuka. Pada tahun 1971 seorang bidan di Tennesche mulai menolong persalinan secara mandiri di sebuah institusi kesehatan. Pada tahun 1979 badan pengawasan obat Amerika menyatakan bahwa ibu bersalin yang menerima anastesi dalam dosis tinggi telah melahirkan anak – anak yang mengalami kemunduran perkembangan psikomotor. Hal ini membuat masyarakat tertarik pada proses persalinan alamiah, persalinan dirumah dan memacu peran bidan. Pada era 1980-an, ANCM membuat pedoman alternatif lain dalam pelayanan persalinan dan mengubah pernyataah yang negatif tentang home birth.
Pada tahun 1980-an, dibuat legalisasi tentang praktek profesional bidan. Hal ini membuat bidan menjadi sebuah profesi dengan lahan praktek yang spesifik dan membutuhkan organisasi yang mengatur profesi tersebut.
Saat ini, amerika serikat merupakan negara yang menyediakan perawatan maternitas termahal di dunia, tetapi sekaligus merupakan negara industri yang paling buruk dalam hasil perawatan antenatal diantara negara – negara industri lainnya. Bidan menangani 1,1% persalinan di tahun 1980, 5,5% di tahun 1994. Angka sectio secaria menurun dari 25% di tahun 1988 menjadi 21% di tahun 1995. penggunaan forcep menurun dari 5,5% ditahun 1989 menjadi 3,8% ditahun 1994.

C. DI SELANDIA BARU
Di selandia baru telah mempunyai peraturan mengenai praktisi kebidanan sejak 1904 tetapi lebih dari 100 tahun yang lalu, lingkup praktik bidan telah berubah secara berarti sebagai akibat dari meningkatnya hospitalisasi dan medikalisasi dalam persalinan. Dari tenaga yang bekerja dengan otonomipenuh dalam persalinan normal di awal tahun 1900, secara perlahan bidan menjadi asisten dokter. Dari bekerja di masyarakat bidan sebagian besar mulai bekerja di Rumah sakit area tertentu, seperti klinik antenatal, ruang bersalin dan ruang nifas. Kehamilan dan persalinan menjadi terpisah. Dalam hal ini bidan kehilangan pandangannya bahwa persalinan adalah kejadian normal dalam kehidupan dan peran mereka sebagai pendamping kejadian tersebut. Selain itu bidan menjadi ahli dalam memberikan intervensi dan asuhan maternitas yang penuh dengan pengaruh medis.
Di Selandia baru para wanitalah yang berusaha melawan model asuhan persalinan tersebut dan menginginkan kembalinya bidan tradisional yaitu seorang yang berada disamping mereka dalam melalui kehamilan sampai 6 minggu setelah kelahiran bayi. Mereka menginginkan bidan yang percaya pada kemampuannya untuk menolong persalinan tanpa intervensi medis, dan memberikan dukungan bahwa persalinan adalah proses yang normal. Wanita – wanita di selandia baru ingin mengembalikan kontrol dalam diri mereka, dan menempatkan diri mereka sebagai pusat kejadian tersebut, bukan obyek dari medikalisasi.
Pada era 1980-an bidan bekerja sama dengan wanita untuk menegaskan kembali otonomi bidan dan sama – sama sebagai rekanan. Mereka telah membawa kebijakan politik yang diperkuat dengan legalisasi tentang profesionalisasi praktik bidan. Sebagian besar bidan di selandia baru mulai memilih untuk bekerja secara independen dengan tanggungjawab yang penuh pada klien dan asuhannya dalam lingkup yang normal. Lebih dari 10 tahun yang lalu pelayanan maternitas telah berubah secara dramatis. Saat ini 86% wanita mendapat pelayanan dari bidan dari kehamilan sampai nifas dan asuhan berkelanjutan yang hanya dapat dilaksanakan pada persalinan di rumah. Sekarang disamping dokter, 63% wanita memilih bidan sebagai salah satunya perawat maternitas, dan hal ini terus meningkat. Ada suatu keinginan dari para wanita agar dirinya menjadi pusat dari pelayanan maternitas.
Model kebidanan yang digunakan di Selandia baru adalah partnershiip antara bidan dan wanita. Bidan dengan pengetahuan, keterampilan dan pengalamannya serta wanita dengan pengetahuan tentang kebutuhan dirinya dan keluarganya serta harapan – harapan terhadap kehamilan dan persalinan. Dasar dari model partnership adalah komunikasi dan negoisasi.

D. DI CANADA
Ontario adalah provinsi pertama di canada yang menerbitkan peraturan tentang kebidanan setelah sejarah panjang tentang kebidanan yang ilegal dan berakibat pada meningkatnya praktik bidan yang tidak berijin. Seperti selandia baru, wanitalah yang menginginkan perubahan, mereka bicara tentang pilihan asuhan dan keputusan yang dibuat.
Model kebidanan yang dipakai di ontario berdasarkan pada definisi ICM tentang Bidan yaitu seorang tenaga yang mempunyai otonomi dalam lingkup persalinan yang normal. Bidan mempunyai akses kepada rumah sakit maternitas dan wanita mempunyai pilihan atas persalinan dirumah atau dirumah sakit. Selandia baru dan canada sama – sama menerapkan model partnersip dalam asuhan kebidanan. Beberapa aspek didalamnya antara lain : hubungan dengan wanita, asuhan kebidanan, informed choise, informed chonsent, praktik bidan yang memiliki otonomi dan fokus pada normalitas kehamilan dan persalinan.
Dalam membangun dunia profesi kebidanan yang baru, selandia baru dan canada membuat suatu sistem baru dalam mempersiapkan bidan – bidan untuk registrasi. Keduanya memulai dengan suatu keputusan bahwa bidanlah yang dibutuhkan dalam perawatan maternitas. Ruang ligkup praktik bidan di kedua negara tersebut tidak keluar dari jalur yang telah ditetapkan ICM. Yaitu bidan yang bekerja dengan otonomi penuh dalam lingkup persalinan normal, atau pelayanan maternitas primer. Bidan bekerja dan berkonsultasi dengan ahli obstetri bila terjadi komplikasi pada ibu serta bayi memerlukan bantuan dari pelayanan maternitas sekunder. Bidan di kedua negara tersebut mempunyai akses fasilitas rumah sakit tanpa harus bekerja di rumah sakit. Mereka bekerja di rumah atau dirumah sakit maternitas.
Selandia baru dan canada menerapkan program direct entry selama 3 tahun dalam pendidikan bidan. Sebelumnya, di selandia baru ada perawat kebidanan dimana perawat dapat menambah pendidikannya untuk menjadi seorang bidan sedangkan di canada tidak ada. Bagaimanapun kedua negara tersebut yakin bahwa untuk mempersiapkan bidan yang dapat bekerja secara otonom dan dapat memberikan dukungan kepada wanita untuk mengontrol persalinannya sendiri. Penting untuk mendidik wanita yang sebelumnya belum pernah berkecimpung dalam sistem kesehatan yang menempatkan kekuatan dan kontrol medis. Karena itu program direct entry lebih diutamakan.
Kedua negara tersebut menggunakan dua model pendidikan yaitu pembelajaran teori dan magang. Pembelajaran teori dikelas difokuskan pada teori dasar yaitu pembelajaran teori dan magang. Pembelajarn teori di kelas difokuskan pada teori dasar, yang akan melahirkan bidan – bidan yang dapat mengartikulasikan teorinya sendiri dalam praktik, memanfaatkan penelitian dalam praktik mereka dan berfikir kritis tentang praktik. Dilengkapi dengan belajar magang, dimana mahasiswa bekerja dengan bimbingan dan pengawasan bidan yang berpraktik dalam waktu yang cukup lama. Bidan tersebut memberikan role model yang penting untuk proses pembelajaran. Satu mahasiswa akan bekerja dengan 1 bidan, sehingga mereka tidak akan dikacaukan dengan bermacam – macam model praktik. Mahasiswa bidan juga akan mulai belajar tentang model partnership. Model ini terdiri dari : partnership antara wanita dan mahasiswa bidan, mahasiswa bidan dengan bidan, mahasiswa bidan dengan guru bidan, guru bidan dengan bidan, partnership antara program kebidanan dengan profesi kebidanan, serta program kebidanan dengan wanita.
Partnership ini menjaga agar program pendidikan tetap pada tujuan utamanya, yaitu mencetak bidan – bidan yang dapat bekerja secara otonom sebagai pemberi asuhan maternitas primer. Selandia baru dan canada telah sukses dalam menghidupkan kembali status bidan dan status wanita. Keselarasan antara pendidikan bidan dan ruang lingkup praktik kebidanan adalah bagian penting dari sukses tersebut.

E. DI INDONESIA
Perkembangan pendidikan kebidanan di indonesia mengalami dinamika pasang surut sejalan dengan pekbangan kebijakan dalam pembangunan kesehatan. Pendidikan kebidanan pernah ditutup selama 9 tahun, yaitu dari tahun 1976 – 1986. dan kemudian dibuka lagi dengan program bidan dan lulusan SPK. Pendidikan bidan yang pada awalnya dipersiapkan untuk menolong persalinan , kemudian berkembang sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi, serta permasalahan di bidang kesehatan. Hal ini mendorong untuk peningkatan pendidikan bidan ke arah pendidikan profesional sesuai dengan tuntutan pembangunan dibidang kesehatan dan tuntutan profesi.
Hampir semua bidan tingkat pendidikannya belum profesional. Bidan yang bekerja di rumah sakit dan puskesmas lebih kurang 40-60% merasa tidak adekwat dalam melaksanakan keterampilan tehnik kebidanan. Pelatihan – pelatihan yang diterima bidan dirasa sangat kurang. Hal itu dilatar belakangi oleh tingkat pendidikan yang berbeda, yaitu dari lulusan SPK ditambah pendidikan Bidan selama 1 tahun (PPB A), Lulusan SLTP diambah pendidikan bidan selama 3 tahun (PPB C), dari lulusan akper ditambah pendidikan bidan selama 1 tahun yang dilanjutkan dengan post graduate training dan pendidikan akta IV masing – masing selama 3 bulan (PPB B). Yang terkhir dimaksudkan untuk menjadi tenaga pengajar pada institusi pendidikan penyelenggara PPB A dan C. Mulai tahun 1996 mulai dibuka program pendidikan DIII kebidanan yang merupakan jalur profesional. Program ini terdiri dari 2 jalur yaitu jalur umum dari SMU (6 semester) dan jalur khusus dari tenaga bidan A, B, C (5 semester). Proses pendidikan di Indonesia masih belum adekwat. Hal ini disebabkan antara lain :
1. kurikulum yang dalam pelaksanaannya masih perlu disesuaikan dengan perkembangan dalam pembangunan kesehatan khususnya kebidanan.
2. tenaga pengajar. Dosen yang mengajar harus memiliki pendidikan minimal 1 tingkat diatasnya.
3. sarana dan pra sarana yang perlu ditingkatkan adalah laboratorium, simulasi kebidanan, perpustakaan dengan pengelolaan yang profesional serta laboratorium bahasa dan komputer.
4. lahan praktik, harus mampu memberikan kesempatan seluas – luasnya dan dapat memberikan bimbingan seoptimal mungkin dengan tenaga instruktur yang profesional dan role model yang dapat membantu pencapaian kompetensi.

E. DI INGGRIS
Buku tentang praktek kebidanan diterbitkan tahun 1902 di Inggris, dan didisain untuk melindungi masyarakat dari praktisi yang tidak memiliki kualifikasi. Pada saat itu sebagian besar bidan, buta huruf, bekerja sendiri, menerima bayaran untuk pelayanan yang mereka berikan pada klien. Meskipun proporsi dari praktek bidan yang mempunyai kualifikasi meningkat dari 30% pada tahun 1905 menjadi 74% di tahun 1915, banyak wanita yang lebih menyukai dukun. Hal ini karena dukun lebih murah mengikuti tradisi lokal dan memberikan dukungan domestik. Selama tahun 1920-an 50-60% wanita hanya ditolong oleh seorang bidan dalam persalinannya, tetapi dalam keadaan gawat darurat bidan harus memanggil dokter. Pelayanan dipusatkan pada persalinan dan nifas dan pelayanan antenatal mulai dipromosikan pada tahun 1935.
Bidan mandiri terancam oleh praktik lokal dan peningkatan persalinan di rumah sakit. Pada tahun 1930 perawat yang juga terdaftar memasuki kebidanan karena dari tahun 1916 mereka dapat mengikuti kursus pendek kebidanan daripada wanita tanpa kualifikasi sebagai perawat. Hal ini mengakibatkan penurunan status dan kekuatan bidan karena perawat disosialisasikan untuk menangani keadaan patologis daripada keadaan fisiologis. Meskipun direct entrynya dibuka kembali pada awal tahun 1990. semua kursus kebidanan saat ini cenderung untuk dibatasi disekitar kualifikasi keperawatan.
Selama tahun 1980, bidan di inggris mulai berusaha mendapatkan otonomi yang lebih dan meningkatkan sistem melalui penelitian tentang alternatif pola perawatan. Dengan perkembangan persalinan alternatif, bidan mulai mengembangkan praktik secara mandiri. Selama pertengahan 1980 kira – kira ada 10 bidan yang praktik secara mandiri di Inggris. Pada 1990 ada 32 bidan independent dan pada tahun 1994 angka perkiraan dari bidan independent adalah 100 orang dengan 80 orang diantaranya terdaftar dalam independent midwifery.

1. Varney, (1997).Varneys Midwifery.
2. Depkes RI, (2003), Dasar dasar asuhan kebidanan, Jakarta.
3. Depkes RI, (2003), standar asuhan kebidanan bagi bidan dirumah sakit dan puskesmasr, Jakarta.
4. Pedoman implementasi asuhan kebidanan bagi akademi kebidanan, bandung, (2001)
5. PPKC, (2003). Manajemen asuhan kebidanan, jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar